Rabu, 03 Juni 2015

EMANSIPATORIS AKUNTANSI SOSIAL: STUDI KRITIS HEGEMONI GRAMSCI

Isu akuntansi sosial selalu menjadi gagasan kontemporer karena berkaitan dengan fenomena sosial dan kerusakan lingkungan yang timbul dari aktifitas perusahaan yang tanpa ampun mengeksploitasi sumberdaya yang ada. Dibalik itu semua sebuah sistem kapitalisme dianggap menjadi biang masalah. Apakah ini menyiratkan transendensi kapitalisme yang tak terkendaliSalah satu fungsi utama diperlukannya praktik akuntansi sosial adalah untuk mengungkap konflik yang melekat dalam kegiatan komersial perusahaan yang bukan hanya mementingkan profit semata tetapi juga berkewajiban atas lingkungan sosial dan alam sebagai konsekuensi ekploitasi dan eksplorasi yang dilakukannya. Akuntansi sosial termasuk pelaporan yang diharapkan lebih mencerminkan cinta dan kepedulian terkait dengan proyek-proyek emansipatoris untuk mencapai tujuan sosial dan individu. Akuntansi emansipatoris akan merangkul dan dibentuk oleh holisme interpretatif kritis (Gallhofer dan Haslam, 2011)
Akuntansi sosial dipandang dari perspektif kritis sebagai salah satu elemen dari strategi terintegrasi dengan CSR yang dirancang untuk mengakomodasi tekanan sosial dan politik, yang selalu mempertahankan otonomi ideologis kapitalistik untuk bisnis dan pasar. Akuntansi sosial menjadi justifikasi moral hegemoni perusahaan Emansipasi akuntansi sosial yang boleh jadi ditentukan oleh basis ekonomi mungkin dan, memang telah sedang dilakukan dalam berbagai bentuk. Akuntansi sosial yang dilakukan oleh perusahaan tentu harus mendapat restu pemerintah yang selalu menjadi mitra abadi dalam sebuah kepentingan kapitalis. Dengan demikian melalui emansipatoris, akuntansi sosial memiliki potensi dan niat untuk membuat celah dalam pengaturan struktural saat ini, membuka jalan untuk reorganisasi masyarakat dalam kaidah manusiawi dan ekologis.
Kita akui sebagai suatu fakta yang tak dapat dipungkiri bahwa dari segi moral sekarang akuntansi sedang menghadapi krisis. Dalam periode ini, yang terfokus dari kasus Enron, para pembuat standar akuntansi sibuk membenahi standar pelaporan keuangan beserta hukumnya yang semuanya sebagai keberpihakan terhadap para kapitalis. Akuntan kritis telah membuat beberapa kemajuan dalam mengungkap cara dimana profesi menyekat diri dari kritik pada tujuan, yang intersubjektif, dan tingkat subyektif. Namun demikian, kecenderungan krisis imanen ke kapitalisme sendiri memberikan dorongan, dalam sistem, untuk kritik baru (McKernan dan MacLullich, 2004). Dalam ajaran sosialisme yang tertindas akan terbentuk kesadarannya untuk melakukan perlawanan terhadap para penindas yang dikenal dengan pemikiran Marx bahwa kapitalisme akan menggali lubang kuburnya sendiri.

Doktrin kapitalisme kenyataannya banyak mempengaruhi perilaku individu dan organisasi swasta maupun pemerintah meskipun kapitalisme itu bukan merupakan bagian dari sebuah ideologi sebuah negara. Kekuasaan pemerintah cenderung kapiltalistik meski tidak secara terang-terangan bersifat diktator tetapi dengan menggunakan hegemoni untuk membungkam dengan berbagai pendekatan yang lebih soft. Bukan hanya pemerintah, tetapi masyarakat sipil (perusahaan)  juga turut andil melakukan eksploitasi atas masyarakat dan alam dengan kekuatan hegemoni yang dimiliki dengan berbagai program yang dikemas dalam ”peduli” masyarakat dan lingkungan.
Kontribusi Gramsci yang paling penting adalah bisa dibilang teori hegemoni. Perspektif Gramscian menekankan bahwa stabilisasi masyarakat selalu berada diantara paksaan dan persetujuan. Supremasi kelompok sosial memanifestasikan dirinya dalam dua cara, sebagai dominasi” dan sebagai kepemimpinan intelektual dan moral” (Gramsci, 1971).
Gramsci mengarah ke peran penting bahwa budaya dan ideologi bermain dalam memproduksi dan mereproduksi pengaturan sosial tertentu. Lebih khusus lagi, Gramsci sangat ingin menekankan bahwa masyarakat Barat yang direproduksi melalui persetujuan dari masyarakat sipil:
“In Russia the State was everything, civil society was primordial and gelatinous; in the West, there was a proper relation between State and civil society, and when the State trembled a sturdy structure of civil society was at once revealed. The State was only an outer ditch, behind which there stood a powerful system of fortresses and
Earth works” (Gramsci, 1971: 238).
Sistem ini benteng dan Earth works membentuk apa Gramsci disebut sebagai Historical Blocs. Sejarah ditandai oleh serangkaian blok sejarah, atau set tertentu pengaturan kekuasaan antara masyarakat sipil, ekonomi dan kelompok politik. Sebuah blok historis tidak kurang dari tatanan sosial dalam kurun sejarah tertentu. Levy dan Newell (2002) mencatat bahwa ada dua makna blok historis Gramsci: pertama, mengacu pada aliansi kelompok-kelompok sosial yang membentuk formasi hegemonik; kedua, mengacu pada keselarasan tertentu dari materi, formasi organisasi dan diskursif yang menstabilkan dan mereproduksi hubungan produksi dan makna. Yang pertama mengandaikan kedua dan Levy (1997) dan Levy dan Egan (2003) berargumen bahwa strategi perusahaan  mengkoordinasikan, sumber daya organisasi dan diskursif. Perspektif ekonomi politik yang dikembangkan di sini berhubungan perjuangan dan strategi tingkat struktur dominasi perusahaan yang lebih luas. Strategi perusahaan individu konstitutif struktur hegemonik yang lebih luas, serta produk dari mereka. Blok sejarah dibentuk oleh mikro-proses bottom-up tawar-menawar dan dibatasi oleh macrostructures hubungan produksi dan formasi ideologis (Levy dan Newell, 2002).
Materi, strategi organisasi dan diskursif korporasi tumpang tindih dalam proses dinamis konflik dan kompromi. Perusahaan besar umumnya tidak dapat mendominasi lapangan murni berdasarkan kekuatan ekonomi kasar atau koneksi pemerintah bukan kontrol atas lapangan terletak pada persetujuan dari kelompok yang lebih luas dari pelaku. Stabilisasi lapangan, atau hegemoni, tergantung pada keselarasan kekuatan yang mampu mereproduksi lapangan (Levy dan Egan, 2003).
Hal ini membawa kita melampaui gagasan kekuasaan terpusat atau determinisme ekonomi yang sederhana, bukan mendorong pandangan kekuasaan sebagai difus seluruh masyarakat dan fungsi aliansi kontingen antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda. Memang, Levy (1997) mengatakan tentang koalisi hegemonik bisnis, pemerintah, profesional dan elit intelektual bukan hanya satu kelompok hegemonik terpusat. Hegemoni selalu melibatkan pilihan kelompok antagonis dalam koalisi hegemonik. Hegemoni menjadi lebih terlihat ketika kelompok-kelompok masyarakat sipil yang sebelumnya bertentangan dengan bisnis, karena frustrasi atau mungkin karena tergoda rayuan, mulai berbicara bahasa bisnis. Jadi, misalnya, banyak kampanyehijausekarang mencoba untuk memberikan solusi terhadap krisis ekologi dari dalam kapitalisme. Dari pergeseran hegemonik dapat dilihat. Sebelumnya kasus keberlanjutan bisnis itu permasalahan dan dipertanyakan oleh banyak ahli lingkungan. Ha ini sekarang telah secara bertahap digantikan oleh kasus bisnis untuk keberlanjutan.
Dapat dipahami bahwa upaya hegemoni dan counter-hegemoni merupakan “aktivitas” yang dapat dipahami secara epistemologis dari “penyadaran” melalui karakter konsensus. Gramsci dengan teori hegemoninya ini mendapat tempat bagi para pemikir kritis dan pejuang anti penindasan di seluruh dunia khususnya bagi negara-negara berkembang yang mencoba mencari alternatif format sistem ekonomi-pembangunannya dengan berkiblat pada sosialisme meskipun tidak secara murni.sehingga fenomena ini akan dikaji dari perspektif Hegemoni Gramsci. Dimana pusat perhatian Gramsci adalah menciptakan kesadaran kritis dan menciptakan perang budaya dalam lingkup masyarakat dan kekuasaan negara. Gramsci begitu yakin bahwa kesadaran akan muncul dikalangan masyarakat untuk membuat sebuah kehendak kolektif yang akan mampu menandingi kekuasaaan yang otoriter. Melaui gagasan tentang peran intelektual organik yang dibutuhkan dengan counter hegemoni untuk melihat dan membentuk ideologi yang mampu berjalan secara linear serta mampu untuk melakukan dan mengikuti perubahan.
Sangat menarik sebuah kajian akan dilakukan dalam melakukan penelitian kritis terhadap kenyataan CSR dengan sebuah harapan yang lebih besar bahkan yang seharusnya tetapi dapat diasumsikan masih merupakan sebuah kenyataan hegemoni dari komunitas tertentu yang diduga dilakukan oleh perusahaan dan dibekingi oleh pemerintah. Analisis mendalam sangat diperlukan untuk membuktikannya dan penelitian ini dengan penuh harapan dapat menguak realitas dan mampu membangun sebuah konsep emansipatoris akuntansi sosial.